Pages

dimanche, mars 01, 2015

Memanusiakan Manusia dengan Manusiawi

Habis baca berita di CTV Banten, timbullah kritik saya terhadap objek yang diberitakan televisi tersebut:

Gara-gara begal, semua orang jadi naik pitam; curi helm, warga sekitar beringaas dan seperti ingin menghabisi pelaku. Disini saya bingung, atas nama humanity, kemanusiaan, haruskah kita menghabisi mereka? Membunuh itu bukan kuasa manusia, tapi Allah. We know that they're kind of ignorant people, but since we know the values of humanity, should we get into the point of "murder"? But anyway, seneng juga sama polisi atas sikapnya untuk meredam agresifitas warga yang geregetan sama pelaku, dengan tegas mereka memberikan peringatan kepada warga yang naik pitam.

Ditambah, berita tentang penangkapan PSK di Jakarta oleh SatpolPP. Saya sebenarnya bingung, haruskah aparat menangkap mereka dengan kekerasan? Diseret seperti binatang. padahal aparat belum punya bukti yang akurat kalo mereka PSK. Ya kalo mereka kabur, memang harus banget ya diseret? Diseret dan dipegang2 dadanya? Padahal SatpolPP bukan militer dan yang ditindak pun bukan seorang pemberontak negara atau yang mempunyai senjata tajam... mereka butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bukan seperti koruptor yang ngambil hak banyak orang utk keperluan sendiri...

Coba atuh ya kita memanusiakan manusia sebagaimana mestinya, dalam lingkup kemanusiaan.  Semoga semakin banyak aparat di Indonesia yang mendahulukan nilai kemanusiaan dalam setiap penyidikannya.

samedi, février 21, 2015

Bogor Kota Indah Sejuk Nyaman?

Sebuah keprihatinan mahasiswa bahasa Prancis terhadap isu lingkungan dan tata kelola perkotaan.

Salah satu jalan di Kebun Raya Bogor

Pernah berkeluh kesah tentang panasnya udara di Bogor saat ini? Pernah merasa nyaman dengan dinginnya Bogor yang bisa mencapai 17-19 derajat celcius? Pernah merasa aneh dengan perubahan cuaca yang ekstrem di Bogor? Pernah melihat air bah yang besar di sekitaran anak sungai Ciliwung? Dan yang paling penting, pernahkah melihat tumpukan sampah menyertai gumpalan air bah di sekitaran sungai? Kali ini saya ingin mencoba untuk merefleksikan kehidupan yang ada di Bogor, terutama di daerah Kotamadyanya. 

Dengan mengusung tema Bogor Beriman yang berarti Bogor Bersih Indah Nyaman, Bogor mempunyai misi yang penting bagi keseimbangan antara alam dan manusia, yaitu dengan mewujudkan kota yang ramah lingkungan. Dikenal sejak lama sebagai salah satu destinasi wisata hijau warga-warga perkotaan, Bogor tentu harus menaruh perhatian yang lebih terhadap lingkungan. Dengan adanya Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor di jantung kota Bogor, membuat kota ini terlihat asri dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan besar di sekitarnya. Pohon beringin yang mungkin hanya kita dapat lihat di hutan hujan tropis atau mungkin hanya di simbol ideologi Pancasila Indonesia, dapat kalian temukan di pusat kota Bogor. Keren bukan kota mungil nan hijau ini?

Kemacetan kota Bogor pada Jumat sore
Namun, sayang beribu sayang, Bogor -unggal poé- bertransformasi ke arah yang menurut saya terlalu komersial dan destruktif. Modernisasi dan pembangunan jalan yang lebar saya rasa hanya menguntungkan beberapa pihak yang tidak peduli terhadap kaum-kaum yang lemah. Mereka memang wajib ditertibkan, namun menurut saya penetertiban tidak seharusnya menanggalkan mata pencaharian mereka. Berpikir sebelum bertindak, memberikan solusi sebelum kita bertindak adalah tindakan yang lumrah untuk memanusiakan manusia. Bukan tanggung jawab pemerintah karena mereka membangun usaha di tanah yang "salah"? Mengapa kita tidak mencoba untuk berpikir, rakyat adalah tanggung jawab negara, negara wajib menjamin kesejahteraan rakyatnya? Bukankah hal itu sudah dijamin dalam UUD negara kita? Maka dari itu penggusuran bangunan liar seyogyanya juga dikesinambungkan dengan kesejahteraan rakyat.


Pengubahalihan taman untuk pesta pernikahan
Berkaitan dengan isu lingkungan yang ada di wilayah perkotaan, menarik bagi kita dengan seksama melihat perubahan atau transformasi "wajah" yang orang banyak bilang sebagai "kebun raya" alias wilayah hijau yang luas, yaitu Kebun Raya Bogor. Sangat mengejutkan memang dalam 5 tahun terakhir, wajah ikon kota Bogor ini telah berubah sedemikian drastis dan komersial. Diawali dari pertentangan pembangunan sebuah hotel yang berada tepat di sekitaran tugu kujang, yang katanya bakalan menghambat arus air tanah ke Kebun Raya Bogor dan juga mengganggu pemandangan wisatawan untuk melihat, dari sekitaran tugu kujang, silhouette Gunung Salak yang membiru di pagi hari, sampai pada kenyataan yang saya dapat sejak kemarin Jumat, 20 Februari 2015, bahwa Kebun Raya Bogor sudah beralih fungsi sebagai tempat komersial. Dimana di sepanjang jalan, kita dapat menemukan pedagang, baik itu pedagang eskrim, aksesoris, makanan dan lain sebagainya. Yang lebih parahnya, di sebelah timur kebun ini, terdapat satu restauran yang menyajikan pemandangan indahnya kebun raya. Menarik memang jika kita membayangkan menyantap makan siang kita dengan pemandangan seperti itu. Namun, yang amat disayangkan adalah, entah karena kegiatan restauran ini atau bukan, tempat yang tadinya terdapat lahan hijau, malah dialihfungsikan sebagai lahan parkir! Ditambah lagi, saya pernah menemukan ada beberapa pasangan yang melangsungkan pernikahannya di sini, sehingga membuat Kebun Raya Bogor terlihat seperti lapangan parkir, bukan lagi sebagai kebun yang dapat dinikmati manusia untuk sekedar bersantai, piknik dan rekreasi.

Suasana di salah satu taman di Kebun Raya Bogor

Selain hal itu, saya juga menyayangkan pihak pengelola yang seolah membiarkan kendaraan pribadi untuk dapat "menjamah" kebun kebanggaan Bogor ini. Sehingga mereka yang berjalan kaki -termasuk saya- seolah termarjinalkan akan kehadiran kendaraan-kendaraan itu, para pedestrian -harus- mempersilahkan mereka yang mengklakson dari belakang, menyingkir dari jalan, sehingga saya dan mungkin sebagian dari pedestrian lainnya memilih untuk berjalan melalui rumput-rumput (yang sebaiknya jangan diinjak) untuk dapat menghindari agar tidak ditabrak oleh mereka. Adanya kebebasan pengendara mobil untuk masuk ke kebun raya menurut saya adalah suatu keputusan yang tidak tepat. Memang hutan kota ini mempunyai luas sekitar dua hektar, tapi apakah dengan membiarkan mobil masuk dapat mejaga kelestarian lingkungan dan ekosistem yang ada? Bukankah Kebun Raya Bogor termasuk salah satu tempat atraktif yang dapat dijadikan sebagai tempat penghilang kepenatan dan kebisingan kota? Pengelola tentunya dapat mengatasi masalah "kemalasan pengunjung" tersebut dengan memberikan alternatif yaitu berupa fasilitas sewa sepeda di Kebun Raya Bogor.


Penebangan pohon tua untuk menghindari jatuhnya korban jiwa
Adanya beberapa kecelakaan di kebun raya seperti tumbangnya pohon-pohon tua yang menimbulkan korban tewas, saya rasa itu merupakan pertanda bahwa alam sudah gerah dengan aktivitas manusia yang berlebihan. Memang sejatinya kasus itu adalah karena cuaca yang ekstrem di musim hujan, tapi bagi saya itu merupakan peringatan bagi kita, manusia untuk dapat melestarikan alam demi keberlangsungan hidup bersama. Di Bogor sendiri saya masih menemukan mereka para pemuda maupun tetua yang masih dengan jailnya membuang sampah tidak pada tempatnya. Di angkutan umum, saya menemukan 3 kali masalah ini. Pertama kali adalah tiga anak SMA, saya tidak tahu mereka dari SMA mana yang jelas saya geram sekali melihat mereka asik meminum minumannya dan kemudian dengan alasan "pura-pura jatuh" bekas minumannya ditaro di dalam angkutan umum. Lalu kedua dan ketiga kali, saya menemukan masalah ini dalam satu hari. Yang kedua pelakunya adalah anak SMP, satu anak SMP tersebut membuang plastik bekas makanan pempeknya di sungai yang berada di sebelah Jambu Dua. Anak SMP itu tidak merasa bersalah. Lalu yang ketiga, pelakunya adalah seorang ibu muda yang membawa anaknya di dalam angkutan umum 22. Ia membuang plastik snack-nya di jalan, padahal ia membuang sampah tersebut di depan rumah orang. Herannya lagi, ia dan kawan-kawannya yang lain malah melanjutkan tertawa-tawa di dalam angkutan yang sesak dengan penumpang. Di antara ketiga hal tersebut, saya salah tidak menegur mereka unuk membuang sampang pada tempatnya. Saya tidak mendapatkan keberanian. Namun setelah geram beberapa kali itu, saya ingin menegakkan "green life" bagi mereka yang masih membuang sampah pada tempatnya.

Memecahkan masalah lingkungan yang ada di kota Bogor ini, saya rasa perlu adanya peran pendidikan dalam bentuk praktek di setiap kalangan masyarakat. Baik itu muda tua, kaya miskin, maupun pemerintah rakyat. Kita perlu bimbingan, kita perlu pembinaan agar kita sadar akan isu lingkungan. Bimbingan atau pembinaan tidak hanya datang dari bangku sekolah, namun juga dalam gaya hidup kita. Memang tidak mudah bagi kita untuk mencoba mempengaruhi orang lain hidup dalam keseimbangan dengan alam, namun ada baiknya jika kita sendiri mencoba untuk menanamkan green lifestyle. Green lifestyle yang berarti melakukan segala aktivitas dan gaya hidup kita dengan bercermin pada dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkan kelak. Selain itu, pemerintah juga dapat mencoba kerjasama dalam bidang sustainable development dengan negara-negara asing dan juga memberikan layanan sewa sepeda seperti di Belanda dan Denmark, guna memberikan kesan eco-friendly city di Bogor. Tidak perlu mengkhawatirkan akan ketidaksediaan lintasan khusus sepeda, namun dengan adanya tempat tersebut, tentu kita dapat memulai membudayakan dan mempengaruhi masyarakat Bogor untuk dapat bergaya hidup yang sehat dan cinta lingkungan.

Semoga di ulang tahun Bogor yang ke 533 pada 5 Juni 2015 nanti, pemerintah dapat memberikan gebrakan baru berupa kebijakannya dalam mengusung kota yang ramah lingkungan dan membangun masyarakat yang cinta lingkungan.

lundi, février 16, 2015

Membangun Semangat Ramah Lingkungan - Diplomasi Lingkungan Denmark-Indonesia



Membangun Semangat Ramah Lingkungan
Diplomasi Lingkungan Denmark-Indonesia
Karya Fahmi Hendriawan
Universitas Negeri Jakarta
 

H.E. Casper Klynge,  while attending the FPCI event #DiplomasiBakso

Jakarta, sang ibu kota merupakan cerminan modernitas bangsa Indonesia. Semua mata dari Sabang sampe Merauke tertuju pada setiap inovasi dan kebijakan yang dibuat di ibu kota ini. Selain itu, kota megapolitan ini pun menjadi role model bagi kota-kota besar maupun kota-kota pinggiran Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang maupun Bekasi. Banyak poin positif dari modernisasi Jakarta yang diadopsi oleh kota-kota di seluruh Indonesia, salah satunya yaitu mewujudkan kota yang modern dan bersahabat dengan lingkungan dan alam. Dalam perwujudan itu, beberapa upaya seperti pembenahan tata ruang dan tata lahan hijau seperti dengan membangun jalan pedestrian yang lebar di pusat kota telah terlaksana dan teradopsi dengan baik. Seperti contoh di Bogor, pemerintahnya berbenah menghiasi kotanya dengan paving-paving yang juga bersahabat untuk penyandang tunanetra. 

Namun, apakah cukup dengan menghiasi dan memperlebar jalan pedestrian guna membangun semangat ramah lingkungan? 

Untuk mewujudkan masyarakat yang sadar akan lingkungan dan alam sekitar, penulis rasa perlu adanya kerjasama pemerintah dalam bidang lingkungan dengan negara lain yang tentunya mempunyai kredibelitas dan rekam jejak yang positif dalam menangani isu-isu lingkungan. Karena selama ini pemerintah hanya melakukan kerjasama dengan negara-negara maju yang belum tentu mereka maju dibidang pengolahan lingkungan. 

Pemerintah Republik Indonesia dapat mencoba mengkaji hal ini dengan coba bekerjasama dengan Denmark. Jika kita melakukan pencarian di Google.com dengan kata kunci “best country to live”, negara itu selalu menempati posisi 10 atau bahkan 5 besar. Di dalam berbagai artikel yang tersaji, selalu menyebutkan bahwa Denmark dengan ibu kotanya, Copenhagen mempunyai perhatian yang tinggi terhadap isu lingkungan di negaranya maupun di dunia. Pemerintahnya mencoba untuk membangun norma bersepada untuk pergi kemanapun guna untuk mewujudkan zero emission di negaranya[1]. Maka dari itu tak ayal bahwa banyak sekali sepeda-sepeda yang disediakan di setiap sudut jalan guna untuk membangun semangat go green itu. Di kota yang paling padat dan besar di Denmark, Copenhagen, terdapat sekitar 50% warganya yang menggunakan sepeda untuk bekerja dan pergi sekolah. [2]Bahkan, salah satu distrik di barat laut Denmark yang bernama Nørrebro dan di barat Denmark, Frederiksberg berkomitmen untuk bersepeda. Hal ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di Jakarta, lintasan sudah disediakan namun terpakai oleh mobil-mobil yang diparkiran di sekitaran lintasan. Selain itu, orang-orang Denmark pun mempunyai semangat mengkonservasi apapun, termasuk listrik.[3]  Selain itu, negara viking ini juga berkomitmen dan bersemangat dalam menghadiri forum-forum international seputar isu-isu lingkungan[4]. Juga, kedinamisan Dubes-dubes Denmark yang berkemauan keras guna membangun budaya ramah lingkungan. Dubes Denmark untuk Indonesia, HE. Casper Klynge, mengkampanyekan kehidupan bike to work dengan menggelar gathering komunitas “Viking Biking Indonesia” pada Jumat pagi pukul 7.30 di Monas, Jakarta.

Berdasarkan riwayat Denmark tersebut, diharapkan pemerintah dapat terus menggalang dan membina kerjasama lebih mendalam dalam bidang lingkungan dengan Denmark. Berangkat dari arah pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yaitu revolusi mental, mungkin kedepannya pemerintah dapat mempertimbangkan pembuatan jalan-jalan khusus mereka yang bersepeda dan juga dapat membangun pos-pos rental sepeda di jalan-jalan protokol seperti yang terjadi di Copenhagen, Denmark, agar kehidupan « go green » masyarakatnya dapat terlaksana secara praktikal, bukan lagi hanya sekedar orasi dan pengajaran di sekolah-sekolah yang berupa ceramah. Walaupun bekerjasama dengan negara yang luasnya lebih kecil dari Indonesia, pemerintah tentunya dapat menggalang lebih banyak ilmu seputar lingkungan karena walaupun kecil, negara ini kecil-kecil cabe rawit alias handal dan terlatih!

Bisa karena terbiasa, maka mulailah budaya ramah lingkungan dengan menyentuh aktivitas atau rutinitas sehari-hari masyarakat luas agar nantinya kita dapat membangun semangat tersebut dan setiap golongan masyarakatpun akan mempunyai kesadaran akan lingkungan secara naluriah, tanpa perlu teguran terlebih dahulu. Walaupun cuaca dan polusi adalah tantangan bagi mereka yang bersepeda, dengan menghormati bersikap ramah terhadap lingkungan maka alam tidak akan menunjukkan kemurkaannya. 

 *Essai ini dibuat untuk mengikuti kompetisi #Ambassador1Day held by Denmark Embassy to Indonesia*


[1] http://www.huffingtonpost.com/2013/10/22/denmark-happiest-country_n_4070761.html
[2] Idem.
[3] http://www.bbc.com/travel/feature/20141215-living-in-the-worlds-most-eco-friendly-cities/2
[4] https://www.facebook.com/DenmarkInIndonesia/photos/pb.430179640384607.-2207520000.1423718843./716596651742903/?type=1&theater

Happy Birthday Dhaifina Adzhani!!

This video is dedicated to our beloved friend who celebrate her 22nd birthday in 16 February 2015. We are Niners, wish you have a blast year ahead!

vendredi, janvier 23, 2015

Kami yang Menanti..

Bendera Indonesia di kapal penyebrangan menuju Pulau Samosir, Medan, Indonesia.
Masyarakat sekarang lebih pintar dan ga bodoh-bodoh amat melihat suatu hal. Mereka dapat melihat mana yang benar dan salah. Mana yang terlihat gelagapan mencari kesalahan orang lain, mana yang dilemahkan.

Kebenaran emang relative sih, dari pandangan seseorang mungkin benar, tapi orang lain mungkin menganggap itu salah. Institusi ini bilang benar, institusi lain bilang salah dengan argumen lain. Berbagai intrik dan strategi dilakukan untuk membuat opini menjadi seolah yang paling benar. Pencitraan dan publikasi menjadi andalan agar opini tersebut terbuncahkan menjadi isu yang dianggap benar.

Kesimpulan dari apa yang ada di awal tahun 2015 ini, "mereka" bergerak cepat untuk menyidik hal-hal yang dianggap dapat menjatuhkan suatu institusi, sedangkan untuk tindakan kriminal yang dapat menjatuhkan negara dan martabat bangsa seperti KORUPSI mereka seolah lamban menanganinya. Dimana profesionalitas dan kapasitas Bapak-bapak di dalam institusinya? Kalau Bapak-bapak seperti ini, kami para penanti kabar indah negeri ini mungkin akan menjadi apatis terhadap setiap kebijakan kalian. Kami yang menanti berakhirnya praktek korupsi di setiap lini kehidupan bangsa, kami yang menanti janji penegakan HAM, kami yang menanti keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan di bumi pertiwi ini. Kami, sejujurnya bosan Pak dengan pemberitaan buruk tentang segelintir orang yang tidak taat hukum. Karena mereka-mereka ternyata lebih mementingkan ego dan gengsi kelompok dibanding dengan membela kaum yang lemah, yaitu rakyat biasa yang menanti dan terus berjuang demi kesejahteraanya. 

Semoga hal ini dapat terselesaikan secepatnya. Sehingga rakyat Indonesia dapat kembali melihat gerakan-gerakan dinamis Bapak-bapak (seperti proses penyidikan kasus sekarang ini) dalam menegakkan keadilan di negara ini. 

#SayaKPK #SaveKPK #SavePOLRI